Header Ads

Kerja di PT Budi Agung Dwipapuri Disuruh Bayar Rp3 Juta? Kok Bisa? Begini Ceritanya

Kawasan Dwipapuri dengan segala ceritanya. (ist)

REDNESIA.COM - Saat itu pagi yang cerah, aku coba melamar kerja ke PT. Kebetulan, di Rancaekek - Sumedang itu banyak sekali PT berjejer di sepanjang jalan.

Karena iseng dan juga ingin meliput sedikit, aku mencoba melamar ke beberapa PT. Isu yang berkembang di lingkunganku kala itu adalah kalau mau kerja di PT harus bayar sekian juta. Katanya sih, itu uang pelicin agar tembus ke dalam.

Hal itu juga semakin membangkitkan rasa penasaranku, benarkah atau bisakah kerja tanpa nyogok?

Gerbang besar Dwipapuri itu dijaga oleh satpam, tapi banyak preman yang meminta uang ke supir-supir saat hendak keluar. Beda dengan Bizzpark Kopo yang di mana satpamlah yang bertugas menyebrangkan mobil-mobil besar itu.

Di Dwipapuri tampak preman dengan setelah preman pada umumnya, tato, badan dekil dengan aneka aksesoris di tubuh mereka. Satpam hanya menonton di dalam.

Saat hendak masuk, aku dicegat oleh ibu-ibu pedagang, mungkin karena penampilanku yang formal banget dengan setelah pencari loker pada umunya. Ibu itu menawarkan apakah aku mau kerja lewat dia, namun karena aku agak buru-buru aku menolaknya halus.

Masuk aku ke kawasan, banyak sekali truk parkir di pinggir jalan. Setiap truk parkir, preman itu meminta uang Rp15 ribu per truk ke supir-supir.

"Bongkar muat juga mereka minta lagi," ujar salah satu sumber yang aku samarkan namanya.

Sampailah aku di PT Budi Agung. Di sana aku disambut dengan baik oleh satpam. Saat hendak memberikan lamaran, satpam itu berujar bahwa saat ini PT Budi Agung hanya menerima lamaran via online.

Satpam itu juga yang memberikan aku link untuk pendaftaran serta scan yang berada di pintu gerbang, lalu aku kembali.

Saat hendak pulang tetiba aku dicegat oleh kurang lebih 8 orang preman yang diketahui pemimpin mereka bernama Kewong.

Kewong datang dan mengajak aku ngobrol bersama teman-temannya. Sebagian temannya memarkir truk yang posisinya ada di depan.

Dia bilang dan bertanya tujuan aku datang ke sana, yah aku jawab mau kerja.

Kewong menawarkan cara cepat untuk kerja di PT Budi Agung yaitu dengan membayar padanya Rp3 juta dan menjanjikan hari ini kerja.

"Tembus sama saya sampai dalam, gaji Rp70 ribu A," kata Kewong.

Posisi yang bisa diisi menurutnya adalah di posisi produksi dengan gaji Rp70 ribu sehari.

Jadi sebulan hanya bisa mendapatkan Rp2 jutaan saja. Katanya itu hasil Omnibuslaw Jokowi.

Karena tak punya uang segitu juga tak tertarik sama sekali dengan gajinya serta rasanya sayang saja uang Rp3 juta dipakai untuk membayar preman, aku menolak halus dan bilang mau berfikir dulu.

"Yah sok berunding dulu sama orang tua, saya siap di sini, manager semua saya yang handle," kata Kewong.

Singkat cerita akhirnya aku pergi meninggalkan tempat itu. Dengan penuh pertanyaan, kenapa para penggangu seperti itu selalu ada yah? Wkwkwkwk.

Satpam sampai orang yang kerja di situ pada takut dengan mereka. Kata sumber yang tadi ngobrol, preman receh itu tak ada apa-apanya dibanding dengan Haji Pengpeng yang konon jadi penguasa hampir seluruh pabrik di Rancaekek - Sumedang.

Kapan-kapan kita kana bahas Haji Pengpeng deh. Untuk si Kewong, dia katanya baru keluar dari penjara karena membunuh tukang bengkel.

"Beberapa kali masuk rumah sakit karena over dosis miras, tapi selalu selamat," kata sumber.

Sekarang aku semakin yakin, mungkin premanisme di Indonesia akan berakhir saat dunia mau kiamat saja. heeuuummmmm. (Andi)***

Diberdayakan oleh Blogger.