Header Ads

Dulu Sultan Minyak Tanah, Kini Bangkrut Total, Didin: Gara-gara Jusuf Kalla!

Didin alias Babeh Didin. (Fahmi Ramdan)

REDNESIA.COM - Nasib orang siapa yang tahu, begitulah yang dirasakan oleh Didin atau lebih akrab disapa Babeh Didin. Sore yang cerah itu secara tak sengaja aku berpapasan dengannya kembali di sekitaran Panyileukan, Kota Bandung.

Tampak dia kini berbisnis bubur keliling. Terkejutnya kami saat kembali jumpa. Namun sama seperti dulu, dia tetap flamboyan dengan rambut yang diwarnai serta berpakaian lebih maju untuk seusianya.

Singkat cerita, aku akhirnya ditawari makan buburnya yang lumayan enak.

Setelah sedikit bernostalgia, dia lalu menceritakan bagaimana kisah masa lalunya dan bagaimana dia bisa berlabuh sampai Panyileukan.

Semua bermula ketika Didin muda asal Garut yang berjiwa petualang mengembara dari satu dapur ke dapur lain. Yah seperti Salt. B jam terbang di dunia masak itu membuatnya menjadi sangat jago dalam hal meracik makanan.

Total hampir 1 dekade lebih dia menjadi koki dari satu rumah makan ke rumah makan lainnya di Priangan Timur.

Karena bosan, Didin akhirnya mendapatkan peluang di akhir tahun 90-an yaitu dengan berbisnis minyak tanah. Sebelum ada gas 3 kg, minyak tanah merupakan alat masak utama masyarakat Indonesia. 

Bermodalkan tabungan, kenalan serta keyakinan, Didin akhirnya mulai berbisnis jual beli minyak tanah. Kawasan Pasar Samarang menjadi titik awal bisnis Didin dimulai.

Bisnisnya bisa dibilang cukup maju karena minim pesaing serta sangat dibutuhkan masyarakat kala itu. Dalam waktu singkat, Didin menjadi orang kaya yah bisa dikatakan jadi salah satu sultan di Samarang.

"Imah boga 5, kolbak, kijang, motor baheulamah kopling nya jang kaditu kadieu, tanah geunah bisnis minyak mah, (Rumah punya 5, mobil kolbak, mobil kijang, motor yang dulu motor itu semua kopling yah untuk kesana kemari, tanah, pokoknya enak bisnis minyak tanah itu)," ujar Didin. 

Didin juga melanjutkan ekspansi bisnisnya ke Bandung tepatnya ke Rancaekek.

Ia menikmati kejayaan lebih dari 1 dekade dengan imperium minyak tanahnya. Bahkan dia pernah bercerita bahwa dia sempat menyuap petugas dengan banyak uang karena muatan berlebih serta tidak bawa surat-surat, waduh mirip kartel yah hahahaha.

Namun, namanya juga waktu, semua perlahan berubah memasuki era-2000an. 


Jatuhnya Bisnis Minyak Tanah Didin

Dulu, gas untuk memasak tidak terlalu populer. Ukurannya yang besar serta harganya yang lumayan mahal saat itu membuatnya tidak terlalu diminati masyarakat. Selain isu mudah meledak, gas yang saat itu berwarna biru juga sangat ribet dengan ukuran jumbo serta stasiun pengisiannya yang langka.

Gas biru dulunya biasa dipakai untuk rumah makan, restoran dan industri yang memerlukan api dengan jumlah besar dan intens.

Di awal-awal pemerintahan SBY sekitar tahun 2000-an, terjadi krisis energi, di mana harga minyak tanah naik sangat drastis dan tidak ngotak saat itu.

Warna antre dengan jerigen jumbo karena langka dan mahalnya minyak tanah saat itu. Penulis juga merasakan, saat masih kecil, seliter minyak tanah itu sekitar Rp1250 an, saat itu harganya bisa Rp8000 hingga Rp10 ribu, naiknya gila-gilaan.

Karena krisis tersebut, akhirnya pemerintah memberikan solusi berupa gas melon harga terjangkau, apinya stabil, serta ramah di kantong ibu-ibu. 

Jelaslah, rakyat sangat senang dengan era baru masak-masak tersebut. Itu juga yang melambungkan nama Jusuf Kalla sebagai salah satu Wapres terbaik. Namun lain cerita untuk Didin. 

Alih-alih bahagia justru dia dendam setengah mati karena kebijakan itu. Bisnis minyak tanahnya anjlok tajam. Pendapatan merosot, bahkan dia harus nombok sana-sini karena hal tersebut. 

Karena tidak punya bisnis lain serta biaya hidup untuk anaknya, Didin akhirnya melepas semua aset yang dia punya dari rumah, mobil hingga tanah dan sawah. Bahkan kini dia hanya bisa mengontrak di kontrakan sederhana dekat kampus UIN 2.

"Gara-gara si Yusup Kalla a*****g, bisnis aing jadi ancur goblok teh," celetuk Didin.

Mungkin banyak juga faktor lain yang membuat bisnisnya sehancur itu.

Dari cerita singkat Didin aku menangkap beberapa kesimpulan tentang kejatuhan hidup, yaitu kita harus bisa beradaptasi dengan zaman terlebih teknologi yang sedang gila-gilaan.

Lalu menanamkan semangat kerja ke anak, yah siapa tak sayang anak, tapi jangan dimanja parah, ketika ada yang mengganjal dalam hidup, anak harus bisa minimal mandiri untuk dirinya sendiri.

Tetap semangat Babeh! (Andi)***

Diberdayakan oleh Blogger.